Makan dengan Kesadaran

“Pak apakah setelah sembuh dari gerd saya bisa makan lagi seperti dulu? Tersiksa pak kalo makan gini terus, bosen…”

“Mas kira kira butuh berapa lama ya FC agar bisa sembuh dari gerd? Aku gak kuat kalo harus makan gini terus menerus, serasa gak bertenaga, lemes…”

Masih cukup banyak pertanyaan yang hampir senada sering saya dengar dari teman teman yang sakit gerd. Bagi teman teman pemula pertanyaan seperti itu wajar sih, namun bagi yang sudah lama menjalani pola makan sehat mestinya pertanyaan itu tdk perlu muncul. Namun seiring perjalanan waktu, sekarang saya bisa memaklumi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya sadar bahwa memahami sebuah proses dari hulu kehilir butuh waktu yang panjang.

“Kesadaran makan” adalah sebuah proses panjang, yang untuk memahaminya butuh kesungguhan didalam mempelajari, mengamati dan menjalaninya.

Apakah gampang melakukannya? bagi banyak orang TIDAK..

Masalah terbesar kita adalah begitu banyak dari kita melakukan sesuatu hal tanpa WHY yang kuat.

“Apa alasan kuat MENGAPA kita harus melakukannya..?”

Seringkali segala sesuatu kita lakukan hanya karena katanya-katanya, hanya ikut ikutan orang lain, karena dipaksa dan ditakut takuti jika tidak melakukannya, malas berpikir karena terbiasa dengan pola pikir instan, atau alasan lemah lainnya.

                ****

Dalam konteks “kesadaran makan”, mari kita melihat dari sudut pandang yang lebih tinggi kenapa kita harus menjaga asupan makanan kita.

Tahukah anda bahwa ternyata apa yg kita makan akan mempengaruhi proses kerja sistem saraf otak kita..? yang membuat kita menjadi lebih cerdas dan fokus.

Makanan kita juga akan mempengaruhi produksi hormon rasa bahagia seperti dophamin, seretonin dan endorphin yang membuat kita memjadi tenang, damai, tidak mudah baper dan moody.

Bahkan mempengaruhi sisi spiritual kita, meningkatkan rasa khusyuk, ketajaman firasat, intuisi dll.

Sistem syaraf di dalam usus kita ternyata jauh lebih kompleks dari pada sistem syaraf otak. Pusat pengendali emosi kita berada disini. Dr. Hiromi Shinya, seorang pakar Gastroenterolog dunia menuliskan didalam bukunya “The miracle of enzym” bahwa usus kita adalah otak kedua kita. Yang bahkan lebih powerfull dalam membantu kita untuk memutuskan berbagai keputusan besar dalam hidup.

Jika anda memahami bahwa ada efek yang begitu besar dari makanan yang anda masukkan kedalam perut anda, maka mestinya anda akan menjadi lebih mudah mengendalikan keinginan anda untuk memakan apapun yang anda inginkan.

Anda akan berpikir dua kali untuk memakan makanan yang berpotensi membuat pikiran, perasaan dan spiritual anda menurun kualitasnya.

Ada teman saya yang berkata, “Tapi kata dokter, kalo kita sakit boleh makan apapun kok kang? Yang penting makannya dengan hati bahagia, tanpa rasa khawatir atau takut, gak masalah kok ke tubuh…”

Well, saya pikir kita harus lebih open minded saat ini. Terbukalah menerima ilmu baru, mindset baru bro..gunakan akal sehat dan hati nuranimu untuk memahaminya.

Berbagai penelitian terakhir tentang hubungan antara usus, makanan, pikiran dan perasaan telah membuktikan bahwa ususmu mempengaruhi pikiran dan perasaanmu.

Jika ususmu bagus, maka pikiran dan perasaanmu akan lebih kuat, bahkan meski sedang dibelit berbagai masalah berat sekalipun. Namun sebaliknya jika ususmu lemah, kotor, maka pikiranmu menjadi gampang negatif, perasaan juga lemah, akan mudah stress, depresi, meski hanya karena masalah kecil.

Mekanisme ilmiah bagaimana suasana flora usus mempengaruhi pikiran dan perasaan kita dapat anda saksikan di video dibawah ini….silakan cekidot👇

              ****

Inilah hikmah kenapa Rosulullah menjaga betul asupan makan beliau.

Beliau lebih sering puasa. Setiap kali beliau mendapati pagi hari tidak ada makanan yang terhidang maka beliau berpuasa.

Beliau makan secukupnya hanya sekedar untuk bisa menegakkan tulang punggung. Tidak pernah berlebih-berlebihan.

Rosulullah lebih sering makan kurma (zakat fitri beliau kurma menunjukkan makanan pokok masyarakat saat itu kurma, bukan gandum), kita tahu kurma adalah makanan mentah (rawfood). Dalam sebuah hadist, Ibunda kita Aisyah pernah mengatakan selama 8 pekan tidak ada api dirumah beliau, selama itu beliau hanya makan kurma dan air putih😓 (Semoga Allah memberikan keselamatan dan kesejahteraan untuk beliau, keluarga beliau dan para sahabat serta semua orang yang mengikuti beliau)

Beliau juga suka makan acar dan cuka (makanan fermentasi), lalu berbagai herbal yang sering disebut sebagai Thibbun nabawy adalah makanan-makanan yang masih kaya enzym seperti habbatussauda, minyak zaitun, madu dll

Maka mari kita teladani Rosulullah dalam pola makan beliau tersebut. Lalu tingkatkan “kesadaran” kita saat makan, agar apa yang kita makan menjadi obat bagi tubuh kita, menjadi sarana penunjang bagi kita untuk lebih khusyuk dalam beribadah kepada Allah, agar lebih mudah sabar, tenang, positif thingking dan mudah mengedepankan hikmah dalam bermuamalah kepada manusia.

Cobalah bangun kesadaran makan tersebut dari hal-hal yang sederhana misalnya :

Saat akan makan, setelah membaca “bismiillah” , bermohonlah dalam hati dengan sepenuh kesadaran agar Allah menjadikan makanan kita sebagai obat yang menyehatkan tubuh dan bermanfaat menunjang tubuh kita untuk beribadah kepada Allah.

Lalu setelah selesai, ucapkan “Alhamdulillah” atau doa syar’i lainnya sambil bermohon dalam hati rasa syukur atas nikmat yang telah Allah karuniakan.

Lakukan dengan kesadaran penuh, menghadirkan hati, dan ditembuskan kepada Allah ta’ala. Bukan sekedar ritual seremonial semata!

Jika hal-hal sederhana tersebut rutin anda lakukan, dijalankan dengan tulus dan disiplin, maka insyaAllah anda akan merasakan sensasi baru atas jiwa anda dengan “makan berkesadaran” tersebut. Jiwa anda akan lebih tenang, pikiran dan perasaan anda akan lebiih damai dan bahagia. InsyaAllah.

Related Post

%d blogger menyukai ini: