Bagaimana Kesadaran Batin Menghadapi Gerd?

Tulisan ini teruntuk teman teman survivor gerd yang masih baru, yang tentunya masih butuh pencerahan, agar bisa menyemangati mereka, bisa menambah keyakinan mereka dalam proses perjuangan untuk bisa sembuh dari gerd.

Banyak saya tuliskan bagaimana ikhtiar yang dulu saya lakukan untuk sembuh dari penyakit asam lambung ini. Seperti disiplin menjaga pola makan sehat, puasa, enema kopi, air kangen, olahraga dll. Ini semua ikhtiar di wilayah fisik yang harus dilakukan dengan keyakinan penuh dan sebaik mungkin.

Kali ini saya ingin sharing ikhtiar BATIN, yang ini merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki agar perbaikan kesehatan lebih cepat meningkat.

Bagaimana sikap batin saat menghadapi sakit gerd?

Sebagaimana yang sering saya sampaikan, pada saat masih sakit gerd maka kita seolah tidak punya kendali atas tubuh, pikiran bahkan perasaan kita. Tiba tiba semuanya begitu sulit untuk ditundukkan.

Semakin kita paksa menundukkan sensasi cemas, gelisah, takut yang ada di dalam pikiran dan perasaan kita, maka justru semakin terbelit, seolah masuk ke pusaran rasa takut yang lebih besar, terus terjebak masuk kedalamnya. Puncaknya bikin rasa kayak gelegepan, sesak seperti kehabisan nafas, pikiran kalut, bingung,  panik (panic attack).

Maka sikap batin paling utama setelah YAKIN adalah PENERIMAAN.

Belajarlah untuk menerima dengan ikhlas semua sensasi rasa tersebut. Pikiran yang kacau, perasaan yang gelisah, dan tubuh yang serasa remuk seperti habis jatuh dari lantai dua, semua itu adalah ujian, pelajaran hidup dari Allah saat ini yang mesti disadari keberadaannya, kemudian diterima dengan sepenuh hati.

Apakah mudah?

Tidak mudah, sulit sekali, tapi harus di usahakan. Latih terus kesadaran kita untuk bisa menerima semua sensasi tidak enak tersebut, bahkan sampai bisa bersahabat dengan semua rasa yang ada. Penerimaan menjadi kunci kesembuhan. Jalani hidup apa adanya, mengalir, planless, ikuti maunya tubuh, mengikuti kehendak Allah atas diri kita.

Milikilah mental pejuang, yakinlah ada Allah yang menyertai perjuangan kita. Bersikaplah berani, jangan cengeng, berhentilah mengeluh, jangan merasa kita sendiri yang paling menderita. Banyak diluar sana, ada ribuan, orang orang yang menderita sakit yang sama bahkan lebih parah dari kita.

Penyakit ini mendidik kita agar menjadi orang yang sabar, gampangan, nrimonan. Sedikit saja ada perasaan jengkel, ada perasaan mrengkel dihati, akan memunculkan sensasi di tubuh dan pikiran. Dengan penyakit ini Allah sedang melemahkan EGO kita, Allah sedang menundukkan ke-Aku-an kita. Bahwa kita bukan siapa siapa, hanya hamba yang lemah dihadapanNya

Fahamilah, selama pencernaan belum membaik, maka semua sensasi sakit yang dirasakan tersebut akan tetap ada. Terus menetap menyelimuti aktifitas harian kita. Jadi satu satunya jalan agar semua sensasi tidak nyaman tersebut hilang adalah dengan memperbaiki pencernaannya.

Maka teruslah fokus untuk disiplin menjalani pola hidup sehat.

Namun harus selalu di ingat, meski ikhtiar “diluar” diri seperti pola makan sehat sudah kita lakukan super ketat sekalipun, proses kesembuhan mungkin akan berlangsung cukup lama, sensasi juga akan terasa maju mundur, naik dan turun bagai naik roller coaster. Hingga semuanya akan semakin membaik, semakin soft, dan sembuh

Disinilah peran penting menjaga stabilitas batin kita untuk tidak terpengaruh kegaduhan dan keruwetan yang dirasakan tubuh, pikiran dan perasaan.

Tetap dalam sikap batin menerima, pasrah, sabar, tawakkal.

Fokus keluar bukan kedalam. Usahakan agar fokus pikiran bukan pada sakitnya, alihkan dengan melakukan kegiatan kegiatan yang disukai, syukur syukur yang bermanfaat, kalau bisa lebih seringlah keluar rumah. Cobalah untuk fokus memberi kebermanfaatan, sekecil apapun kebaikan itu, akan memberi efek bahagia di pikiran. Akan mempercepat proses kesembuhan.

Jika selama ini mungkin kita sering belajar tentang ilmu sabar, ilmu pasrah, ilmu tawakal dan ilmu menata hati lainnya, maka inilah saatnya mempraktekkan semua ilmu yang sudah pernah di pelajari tersebut. I

nilah saatnya mengamalkan semua ilmu tersebut. Ini ujian prakteknya. Jelas tidak mudah, bahkan sangat sulit, karena ada kesadaran kesadaran baru yang harus di “geser”. Namun percayalah ada harapan pahala besar disana, ada banyak kebaikan dan kesuksesan, ada hidup BARU yang lebih berkualitas sedang menunggu di ujung perjuangan kita.

Ada beberapa pertanyaan disampaikan :

Saya ingin segera sembuh pak, ingin bisa gemuk, bisa segera hidup normal gimana caranya?

Saran saya berhentilah untuk membuat ekspektasi terhadap hidup anda saat ini. Semua keinginan itu akan membebani pikiran, membuat anda tidak bisa rileks menjalani prosesnya. Mengalir saja, fokus on proses, lalu serahkan urusan hasil pada Allah.

Allah lebih tahu kok yang terbaik buat kita, kapan waktu yang pas buat sembuh, biarkan Allah saja yang menentukan, Allah Maha Berkehendak dengan segala hikmahNya, tidak perlu anda terus memikirkannya. Tugas utama anda menikmati proses, menjalani proses dengan hati tenang. Meski rasa sakit, cemas dan gelisah ada, tapi itu semua hanya sensasi yang mengikuti kondisi pencernaan.

Saya kasihan dengan istri dan anak anak saya, jadi membebani mereka

Tidak perlu merasa bersalah, perasaan bersalah hanya akan membebani tubuh, sehingga melambatkan proses perbaikan. Jalani saja perjuangan ini apa adanya, sesuai kemampuan yang dimiliki. Allah memberikan ujian sesuai kesanggupan hambanya. Jadi fokus pada diri sendiri dulu, serahkan urusan anak dan istri pada Allah.

Saya gak bisa menyiapkan sendiri jus nya pak, tidak ada yang bisa membantu saya

Jika anda sudah menetapkan visi hidup untuk “sembuh dari gerd” maka belajarlah untuk mandiri. Paksa diri anda untuk mau menjalani perjuangan ini meski sendiri. Eh tidak sendiri kok, ada Allah tempat kita bersandar pada saat sudah benar benar lelah. Tetaplah menjaga semangat untuk sembuh meski perasaan mengajak melow terus-terusan, jangan di ikuti melownya, tetap bangkit untuk semangat menjalani prosesnya.

Orang orang tidak bisa memahami saya, bahkan orang terdekat sekalipun pak, semua tidak mendukung saya

Sudah jamak terjadi, Orang di luar sana tidak bisa memahami apa yang dirasakan penderita gerd. Memang terasa aneh buat orang awam. Penderita gerd terkesan mengada ada, lebay, kolokan dsb. Itu semua karena banyak orang itu benar benar tidak paham penyakitnya, maka saran, saya bersikaplah cuek, luweh, EGP (emang gue pikirin), kalau perlu bersikap egois dulu sementara waktu. InsyaAllah semua akan kembali normal setelah anda sehat.

Jalani aja prosesnya dengan semangat, ada ataupun tidak ada dukungan dari orang lain. Seringlah curhat kepada Allah. Jika perlu tempat curhat dengan orang lain, curhatlah ke teman teman yang paham atau pernah mengalami sakit gerd. Jangan ke yang lain, kecuali kalau sudah siap sakit hati, hehe

Aku kok belum bisa khusuk kalau dipakai sholat, baca Al Qur’an, gimana ya pak?

Pastilah dengan kondisi pikiran dan perasaan yang masih ruwet seperti itu akan sulit untuk khusyuk. Tetap jalani aja ibadah ibadah tersebut semampunya, jangan menunggu keadaan jadi ideal. Allah tahu kok niat kita yang ingin ibadah dengan khusyuk kepadaNya, meski belum bisa karena terkendala sesuatu yang di luar kendali kita.

Yang namanya hidup, pasti akan datang juga berbagai masalah saat masih sakit, bagaimana menghadapinya pak?

Saat masih sakit, anda tidak perlu sibuk menghadapi masalah yang datang, hindari saja, carilah solusi yang berorientasi pada kenyamanan diri sendiri. Mental anda belum kuat kalau harus fight dengan masalah, belum siap kalau menginginkan penyelesaian yang ideal. Biarlah untuk sementara waktu dianggap pengecut, atau egois. Nanti kalau sudah sembuh, mental anda sudah kembali, anda mulai bisa bikin penyelesaian ulang yang lebih baik.

Masih banyak pertanyaan pertanyaan lain sebenarnya, hanya saja sedang tidak ada di kepala saya saat ini. Ini saja dulu sharing saya, semoga bermanfaat buat teman-teman.

 

Baca Selanjutnya : Pengalaman Penderita GERD

Related Post

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: